UPDATE AND UPGRADE MULTIPLE TRAUMA PATIENT MANAGEMENT

semnas-2016

Jember, 5 Nopember 2016  semua warga  Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember larut dalam sebuah kegiatan yang bersifat Nasional yaitu dalam Seminar yang bertajuk Update and Upgrade Multiple Trauma Patient Managemen yang diawalai dengan pemberian materi oleh : Prof.Dr.Eddy R.dr.Sp.AnK.IC  yang mengulas tentang  Trauma berat akibat Pendarahan yang mengakibatkan Shock yang akhirnya Hipoksia Jaringan  Evaluasi awal dari orang yang terluka kritis dari beberapa trauma adalah tugas yang menantang, dan setiap menit dapat membuat perbedaan antara hidup dan mati.

Selama 50 tahun terakhir, penilaian pasien trauma telah berkembang karena pemahaman yang lebih baik dari distribusi kematian dan mekanisme yang berkontribusi terhadap morbiditas dan mortalitas pada trauma.

Kematian dapat dikelompokkan menjadi langsung, kematian dini, dan akhir. kematian langsung disebabkan oleh cedera fatal pembuluh, jantung, atau sistem neurologis yang besar.  Kematian segera terjadi di tempat cedera, seperti yang ditunjukkan pada skema di bawah.

 

trauma

kematian dini dapat terjadi dari menit ke jam setelah cedera. Pasien-pasien ini sering tiba di sebuah rumah sakit sebelum meninggal, yang biasanya terjadi karena perdarahan dan kolaps kardiovaskular. Akhir puncak kematian trauma dari hari ke minggu setelah cedera dan ini terutama disebabkan sepsis dan gagal organ multiple. sistem terorganisir untuk perawatan trauma berfokus pada penyelamatan seorang pasien dari kematian trauma awal, sedangkan perawatan kritis dirancang untuk mencegah kematian trauma akhir. Kematian trauma awal hasil dari oksigenasi gagal organ vital, cedera sistem saraf pusat besar, atau keduanya. Mekanisme oksigenasi jaringan gagal termasuk ventilasi yang tidak memadai, gangguan oksigenasi, kolaps sirkulasi, dan perfusi organ akhir tidak cukup. Besar pusat trauma sistem saraf menyebabkan ventilasi tidak memadai dan / atau gangguan pusat pengatur batang otak. Cedera yang menyebabkan kematian trauma awal terjadi pada pola diprediksi berdasarkan mekanisme cedera; usia, jenis kelamin, dan habitus tubuh pasien; atau kondisi lingkungan.

Pengakuan pola-pola ini menyebabkan perkembangan dari Advanced Trauma Life Support (ATLS) pendekatan oleh American College of Surgeons. ATLS adalah standar perawatan untuk pasien trauma, dan itu dibangun sekitar pendekatan yang konsisten untuk evaluasi pasien. Protokol ini memastikan bahwa kondisi yang mengancam jiwa yang paling cepat dengan cepat diidentifikasi dan ditangani dalam urutan potensi risiko mereka.

Tujuan dari evaluasi awal dari pasien trauma adalah sebagai berikut: (1) untuk secara cepat mengidentifikasi cedera yang mengancam jiwa, (2) untuk memulai terapi suportif yang memadai, dan (3) untuk secara efisien mengatur baik terapi definitif atau transfer ke fasilitas yang memberikan terapi definitif.

 Sedangkan Pembicara ke dua mengulas  Initial Assessment and Transport  Penilaian awal korban cedera kritis akibat cedera multipel trauma merupakan tugas yang menantang, dan tiap menit bisa berarti hidup atau mati. Sistem Pelayanan Tanggap Darurat ditujukan untuk mencegah kematian dini (early) karena trauma yang bisa terjadi dalam beberapa menit hingga beberapa jam sejak cedera (kematian segera karena trauma, immediate, terjadi saat trauma. Perawatan kritis, intensif, ditujukan untuk menghambat kematian kemudian, late, karena trauma yang terjadi dalam beberapa hari hingga beberapa minggu setelah trauma).
Kematian dini diakibatkan gagalnya oksigenasi adekuat pada organ vital (ventilasi tidak adekuat, gangguan oksigenisasi, gangguan sirkulasi, dan perfusi end-organ tidak memadai), cedera SSP masif (mengakibatkan ventilasi yang tidak adekuat dan / atau rusaknya pusat regulasi batang otak), atau keduanya. Cedera penyebab kematian dini mempunyai pola yang dapat diprediksi (mekanisme cedera, usia, sex, bentuk tubuh, atau kondisi lingkungan). Tujuan penilaian awal adalah untuk menstabilkan pasien, mengidentifikasi cedera / kelainan pengancam jiwa dan untuk memulai tindakan sesuai, serta untuk mengatur kecepatan dan efisiensi tindakan definitif atau transfer kefasilitas sesuai.
Setiap bencana selalu menampilkan bahaya dan kesulitannya masing-masing. Yang akan dibicarakan berikut ini antara lain adalah petunjuk umum dalam mengelola korban bencana disamping untuk kegawatan sehari-hari. Mungkin diperlukan modifikasi oleh pemegang komando bila dianggap diperlukan perubahan.
Bencana adalah setiap keadaan dimana jumlah pasien sakit atau cedera melebihi kemampuan sistem gawat darurat yang tersedia dalam memberikan perawatan adekuat secara cepat dalam usaha meminimalkan kecacadan atau kematian (korban massal), dengan terjadinya gangguan tatanan sosial, sarana, prasarana (Bencana kompleks bila disertai ancaman keamanan). Bencana mungkin disebabkan oleh ulah manusia atau alam. Keberhasilan pengelolaan bencana memerlukan perencanaan sistem pelayanan gawat darurat lokal, regional dan nasional, pemadam kebakaran / rescue, petugas hukum dan masyarakat. Kesiapan rumah sakit serta kesiapan pelayanan spesialistik harus disertakan dalam mempersiapkan perencanaan bencana. Secara nasional kegiatan penanggulangan gawat darurat sehari-hari maupun dalam bencana diatur dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT S/B) yang harus diterapkan oleh semua fihak termasuk masyarakat awam, dibagi kedalam subsistem pra rumah sakit, rumah sakit dan antar rumah sakit.
Proses pengelolaan bencana diatur dalam Sistem Komando Bencana. Kendali biasanya ditangan Bakornas-PB (Banas) / Satkorlak-PB / Satlak-PB, namun bisa juga pada penegak hukum seperti pada kasus kriminal / terorisme atau penyanderaan. Kelompok lain bisa membantu pemegang kendali. Jaringan transportasi dan komunikasi antar instansi harus sudah dimiliki untuk mendapatkan pengelolaan bencana yang berhasil.

 Tingkat respons atas bencana. 

Akan menentukan petugas dan sarana apa yang diperlukan ditempat kejadian :
Respons Tingkat I : Bencana terbatas yang dapat dikelola oleh petugas sistim gawat darurat dan penyelamat lokal tanpa memerlukan bantuan dari luar organisasi.
Respons Tingkat II : Bencana yang melebihi atau sangat membebani petugas sistim gawat darurat dan penyelamat lokal hingga membutuhkan pendukung sejenis serta koordinasi antar instansi. Khas dengan banyaknya jumlah korban.
Respons Tingkat III : Bencana yang melebihi kemampuan sumber sistim gawat darurat dan penyelamat baik lokal atau regional. Korban yang tersebar pada banyak lokasi sering terjadi. Diperlukan koordinasi luas antar instansi.

Pemateri ketiga mengupas habis tentang manajemen nyeri pada pasien multiple trauma di ICU . Pasien di ICU memiliki karakteristik unik yang memberikan tantangan yang signifikan bagi tim perawatan kritis. Pasien sakit kritis mungkin menderita secara tidak proporsional dibandingkan dengan pasien lain, mengalami nyeri yang signifikan dari penyakit yang mengancam jiwa atau cedera, dan rasa sakit tambahan yang terkait dengan prosedur sederhana, seperti pengisapan endotrakeal atau penghapusan tabung dada. Lebih lanjut, pasien sakit kritis sering tidak mampu untuk secara efektif berkomunikasi sakit untuk pengasuh mereka, sehingga sulit untuk menilai dan mengelola rasa sakit secukupnya.

Mengelola Nyeri pada pasien sakit kritis

Gagal organ, sepsis, dan komplikasi medis lainnya dapat membuat sulit untuk mengelola nyeri pada sakit kritis. Penggunaan opioid atau obat yang terkait adalah metode standar pengendalian nyeri akut, dan pilihan yang opioid untuk menggunakan hati-hati dipilih didasarkan pada keunikan isu-isu manajemen rasa sakit setiap pasien, serta efek samping dan interaksi obat yang potensial.

“Sebagian besar penelitian tentang obat sakit telah dilakukan di non-ICU pengaturan. Para dokter ICU harus ekstrapolasi dan menerapkan penelitian ini untuk perawatan pasien sakit kritis yang sering telah renggang dan cepat berubah kondisi klinis yang menyulitkan keputusan farmakoterapi,”

Seminar kali sangat luar biasa karena institusi PSIK juga luar biasa bersama ini kami sampaikan terima kasih kepada seluruh keluarga besar PSIK Universitas Jember karena daerah Jember adalah merupakan daerah yang mempunyai resiko tinggi terhadap bencana khususnya wilayah Jember bagian timur Kecamatan Silo, sumberjambe dan sekitarnya adalah daerah yang rawan lonsor sehingga membutuhkan tenaga tenaga yang trampil dalam menangani trauma akibat bencana mari kita Ngangsu Kaweruh bersama Sejawat Civitas Akademika PSIK UNEJ dan BEM PSIK UNEJ  melalui Seminar Nasional Update and Upgrade Multiple Trauma Patient Management di Adelwes Cempaka Nara Sumber yg luar biasa .1. Prof.Dr.Eddy R.dr.Sp.AnK.IC , 2. Ns. Senja Sentiaka .S.Kep.EMT.P, 3. Ns . Yanuar S.Kep.M.N.Sc (IC)  banyak hal yg musti kita pelajari di atas langit masih ada langit  ayo sejawat belajar dan belajar  ujar  Ns. Asrah. S.Kep. M.Kep Ketua PPNI Cabang Jember dalam sambutannya.

Sedangkan Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember Ns. Lantin Setyorini, S.Kep.M.Kes menyampaikan terima kasih kepada Adik-adik mahasiswa saya sangat gembira karena ternyata mahasiswa PSIK memang luar biasa bisa sukses menggelar seminar Nasional baru kali ini Seminar dihadiri hampir 1000 peserta karena saya baru pulang dari lawatan keluar negeri selama 7 hari NCKU untuk melanjutkan MOA yang telah ditanda tangani bersama dan menghasilkan kesepakatan untuk tahun 2017 PSIK akan mengirimkan 7 mahasiswanya untuk belajar di NCKU ujar lantin.

Kegiatan Seminar Nasional di buka oleh Wakil Rektor bidang Akademik dan kemahasiswaan Universitas Jember yaitu Drs. Zulfikar, MSc. Ph.D (satar)

Leave a Reply